Meraih Kehidupan Aman Dan Tentram Dengan Syariat, Al-Ustadz Saifuddin Zuhri

Suasana yang aman dan tentram adalah suasana yang diidam-idamkan oleh setiap orang. Bahkan kebutuhan seseorang terhadap hal tersebut lebih diutamakan daripada kebutuhannya terhadap makanan dan minuman. Karena orang yang cemas, khawatir dan penuh ketakutan tidak akan bisa merasakan enaknya makanan dan minuman sebagaimana mestinya.
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ جَعَلَ تَحْقِيْقَ اْلأَمْنِ مَقْرُوْنًا بِاْلإِيْمَانِ الْخَالِصِ مِنَ الشِّرْكِ وَالطُّغْيَانِ، فَقَالَ تَعَالَى: {الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ}.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:
فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَاهُ وَقَاهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ نَجَاهُ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dengan bersemangat dalam mempelajari perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan larangan-larangan-Nya, untuk kemudian kita jalankan perintah-perintah-Nya sekuat kemampuan kita dan kita jauhi seluruh larangan-Nya. Dengan bertakwa kepada-Nya kita akan dijaga dari siksa-Nya dan dengan bertakwa kita akan mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Hadirin rahimakumullah,
Suasana yang aman dan tentram adalah suasana yang diidam-idamkan oleh setiap orang. Bahkan kebutuhan seseorang terhadap hal tersebut lebih diutamakan daripada kebutuhannya terhadap makanan dan minuman. Karena orang yang cemas, khawatir dan penuh ketakutan tidak akan bisa merasakan enaknya makanan dan minuman sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَّارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ
“Wahai Rabb-ku, jadikanlah kota Makkah ini sebagai kota yang aman dan berikanlah rizki kepada penduduknya dari berbagai hasil tanaman. ” (Al-Baqarah: 126)

Hadirin rahimakumullah,
Di dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lebih mendahulukan untuk meminta kehidupan yang aman dibanding meminta rizki. Maka jelaslah bahwa kebutuhan terhadap kehidupan yang aman dan nyaman di muka bumi ini merupakan kebutuhan yang sangat diutamakan. Oleh karena itu pula, kita dapati seluruh negara di muka bumi ini berusaha untuk mewujudkannya. Mereka telah berusaha dengan berbagai upaya. Beberapa teori dan sistem telah mereka terapkan untuk menciptakan keamanan dan ketentraman bagi masyarakat di wilayahnya, namun ternyata tidak memberikan hasil sebagaimana mereka inginkan.
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Apa sesungguhnya upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman dan tentram? Apakah dengan cara otoriter yang dilakukan oleh pihak penguasa, yaitu dengan memaksakan kehendaknya kepada masyarakat dan menyingkirkan segala upaya yang ingin menghalanginya? Ataukah dengan cara menjadikan keinginan mayoritas orang sebagai tolok ukur kebenaran dan memberikan keleluasaan kepada setiap orang untuk berbuat sesuai seleranya masing-masing?
Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya kehidupan yang aman dan tentram tidak akan terwujud dalam sebuah masyarakat kecuali kalau mereka kembali kepada agama Islam. Karena memang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus Rasul yang membawa ajaran Islam ini sebagai rahmat untuk seluruh alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam. ” (Al-Anbiya`: 107)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Begitu pula ajaran-ajaran yang ada di dalam agama Islam, sangat besar peranannya dalam mewujudkan hal tersebut. Kenyataan di dalam sejarah juga menunjukkan hal yang demikian. Masyarakat di jazirah Arab sebelum datangnya Islam adalah masyarakat yang hidup dalam keadaan saling bermusuhan. Yang kuat menyakiti yang lemah. Mereka juga memiliki kebiasaan melakukan praktik-praktik sihir perdukunan yaitu dengan meminta tolong kepada setan dari kalangan jin untuk menyelesaikan urusan mereka. Hal yang demikian ini tentu akan membuat kehidupan menjadi tidak aman dan nyaman. Begitu pula yang kita dapatkan sebagian masyarakat di sekitar kita yang masih meminta perlindungan kepada jin, kita dapatkan mereka hidup dalam keadaan diliputi rasa khawatir dan takut. Karena memang cara-cara tersebut akan membuat jin semakin menakut-nakuti manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tentang orang-orang Arab jahiliah dalam firman-Nya:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ اْلإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا
“Dan sesungguhnya dahulu orang laki-laki dari kalangan manusia meminta perlindungan kepada laki-laki dari kalangan jin. Maka mereka (laki-laki dari kalangan jin) menambahkan rasa takut (kepada manusia). ” (Al-Jin: 6)
Namun setelah datangnya Islam, keadaan di jazirah Arab menjadi berubah. Akidah yang benar membuat para sahabat menjadi orang-orang yang saling mencintai di antara mereka. Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka menjadi orang-orang yang meminta perlindungan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, menyerahkan urusan hanya kepada-Nya dan menjauhi segala yang diibadahi kepada selain-Nya. Begitu pula keyakinan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, menjadikan mereka jauh dari keinginan-keinginan berbuat jahat kepada sesama. Hal ini menjadikan mereka hidup dalam keadaan penuh keamanan dan ketentraman.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Begitu pula ajaran Islam yang lainnya, akan mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman dan tentram. Misalnya, kewajiban shalat dan zakat. Dua kewajiban yang sering disebutkan secara beriringan ini sangat besar peranannya dalam mewujudkan kehidupan yang aman. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tentang hikmah diwajibkannya shalat dalam firman-Nya:
إِنَّ الصَّلاَةَ تَنهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat akan mencegah perbuatan keji dan munkar. ” (Al-‘Ankabut: 45)
Adapun zakat, maka kewajiban ini akan menumbuhkan rasa kasih sayang antara yang kaya dan yang miskin, serta menghilangkan rasa permusuhan di antara mereka.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di antara ajaran Islam yang sangat besar peranannya dalam mewujudkan kehidupan yang aman dan tentram adalah kewajiban untuk berbaiat (berjanji taat) kepada penguasa yang muslim, dengan menaatinya dalam perkara yang tidak bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah serta pemimpin di antara kalian. ” (An-Nisa`: 59)
Oleh karena itu, agama ini melarang pemeluknya untuk memberontak terhadap penguasa muslim yang sah. Karena yang demikian ini akan menimbulkan kemudaratan (kejelekan) yang sangat besar. Bahkan wajib bagi kaum muslimin untuk menghormati penguasanya, mencintai serta mendoakan kebaikan untuknya ataupun menasihatinya ketika terjatuh dalam kesalahan dengan cara yang baik. Namun tidak boleh bagi kita untuk menasihatinya dengan cara menyebutkan kesalahan-kesalahannya melalui mimbar-mimbar di depan massa ataupun dengan tulisan-tulisan yang disebarkan ke khalayak. Cara yang benar adalah dengan diam-diam, tidak di muka umum. Karena demikian petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini, dan cara ini lebih memungkinkan untuk diterimanya nasihat daripada kalau disampaikan di depan umum. Kemudian apabila nasihat itu diterima, maka itulah yang kita harapkan. Namun apabila tidak, maka telah selesai kewajiban kita.
Selanjutnya kita harus bersabar dengan berbagai kesalahan penguasa selama dia masih menjalankan shalat. Karena demikianlah ajaran agama kita. Dan ini pula yang akan mewujudkan kehidupan aman dan tentram. Begitupula ajaran-ajaran Islam yang lainnya, seperti jihad, penegakan hukum had dan lain-lain, sangat besar fungsinya dalam mewujudkan kehidupan yang aman dan tentram.
Akhirnya mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, baik masyarakat maupun pemerintahnya, untuk bisa mempelajari Islam dengan benar dan mewujudkannya dalam kehidupan kita, sehingga akan terwujud kehidupan yang aman dan tentram.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْن وَحُجَّةً عَلَى الْمُعَانِدِيْنَ وَمِنَّةً عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ أَجمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ {وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ} (البقرة : 194)
عِبَادَ اللهِ، وَكَمَا أَنَّ اْلإِسْلاَمَ يُحَقِّقُ اْلأَمْنَ مِنْ مَخَاوِفِ الدُّنْيَا فَهُوَ كَذَلِكَ يُحَقِّقُ اْلأَمْنَ مِنْ مَخَاوِفِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ تَعَالَى: {الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ} (الأنعام: 82)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kembali kita mengingatkan kepada hadirin untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama orang-orang yang bertakwa, menolong mereka dan menjaga mereka dari berbagai kejelekan yang akan menimpa mereka. Kaum muslimin rahimakumullah,
Agama Islam sebagaimana akan mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman dan tentram di dunia, juga akan mewujudkan kehidupan yang membahagiakan di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ.
“Orang-orang yang beriman yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka akan mendapatkan kehidupan yang aman dan mereka akan mendapatkan hidayah. ” (Al-An’am: 82)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُوْنٍ. ادْخُلُوْهَا بِسَلاَمٍ آمِنِيْنَ. وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِيْنَ. لاَ يَمَسُّهُمْ فِيْهَا نَصَبٌ وَّمَا هُمْ مِّنْهَا بِمُخْرَجِيْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mereka berada di taman-taman surga yang ada di dalamnya sungai-sungai. (Dikatakan kepada mereka), ‘Masuklah kalian ke surga dengan penuh keselamatan dan keamanan. ’ Kami hilangkan pada dada-dada mereka rasa dendam, mereka saling bersaudara duduk di atas dipan-dipan saling berhadapan. Mereka tidak merasa lelah di dalam surga dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya. ” (Al-Hijr: 45-48)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Maka jelaslah bahwa dengan kembali kepada ajaran Islam kita akan mendapatkan kehidupan yang aman dan tentram, jauh dari ketakutan. Akan tetapi perlu diketahui pula bahwa yang dimaksud dengan kembali kepada Islam adalah kembali secara utuh dan menyeluruh. Bukan sekedar kembali pada sebagian ajarannya saja namun meninggalkan ajaran yang lainnya. Sebagaimana didengung-dengungkan oleh sebagian kaum muslimin yang mengajak untuk kembali kepada Islam namun hanya mengajak kepada diterapkannya hukum Islam pada masalah-masalah tertentu saja atau yang hanya mengajak kepada shalat dan keutamaan-keutamaan amalan saja. Namun mereka menyepelekan perkara yang lebih penting yaitu mengajak kaum muslimin untuk berakidah dengan akidah yang benar. Akidah yang tidak dicampuri syirik serta mengajak kaum muslimin untuk beribadah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dicampuri dengan bid’ah. Semestinya kita harus kembali kepada Islam secara keseluruhan, namun tentunya dengan mendahulukan perkara yang lebih penting dari perkara yang penting lainnya, sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيًّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ احْفَظْ وُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنَ اْلأَقْوَالِ وَاْلأَفْعَالِ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ . اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

www. asysyariah. com/syariah. php?menu=detil&idonline=473
sumber: www. darussalaf. or. id, penulis: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri