Haq-haq Seorang Muslim Dan Keagungannya (bagian 1), Fadhilatu Asy Syaikh Shalih bin

Kedudukan hak-hak ukhuwwah { persaudaraan dan parsahabatan sesama muslim }adalah sangat tinggi dalam Islam. Hal ini banyak ditegaskan dalam nash-nash AlQur’an dan Sunnah. Memeliharanya merupakan bagian dari bentuk pemeliharaan terhadap peribadahan, sebaliknya merendahkannya merupakan bagian dari bentuk perendahan terhadap peribadahan. Karena hakikat dari ibadah adalah segala bentuk kebaikan yang dicintai dan diridloi oleh Alloh, dari perkataan, amalan-amalan yang dhohir dan batin.
Kedudukan hak-hak ukhuwwah { persaudaraan dan parsahabatan sesama muslim }adalah sangat tinggi dalam Islam. Hal ini banyak ditegaskan dalam nash-nash AlQur’an dan Sunnah. Memeliharanya merupakan bagian dari bentuk pemeliharaan terhadap peribadahan, sebaliknya merendahkannya merupakan bagian dari bentuk perendahan terhadap peribadahan. Karena hakikat dari ibadah adalah segala bentuk kebaikan yang dicintai dan diridloi oleh Alloh, dari perkataan, amalan-amalan yang dhohir dan batin.
Memelihara hak-hak ukhuwwah merupakan amalan yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh. Terlebih khusus jika kedua saudara itu memiliki hubungan dan kasih saying serta kecintaan secara khusus yang didasari karena Alloh dan dalam rangka mentaati Alloh, atau saudaranya itu telah membimbingnya kepada kebaikan dan hidayah, maka lebih tinggi lagi kedudukannya dalam memelihara hak-hak ukhuwwah tersebut.
Hak-hak ukhuwwah itu berlaku bagi yang kecil dan yang besar, yang muda dan yang tua, laki-laki dan perempuan. Alloh telah menjadikan nikmat Islam bagi muslimin sebagai persaudaraan, sebagaimana firman Alloh :

فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا?[آل عمران:103]

“Maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka , lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya. ”

Dalam ayat ini Alloh menjelaskan bahwa kecintaan itu karena Alloh dan untuk Alloh, kecintaan sesame muslim itu merupakan nikmat Alloh. Seseorang yang memelihara nikmat itu dia akan mengetahui keagungan nikmat tersebut dan sebaliknya, orang yang tidak memeliharanya maka kesengsaraanlah yang didapat dan kewajiban untuk memperingatkannya.
Sebagian ulama menafsirkan lafadz : بِنِعْمَتِهِ “karena nikmat Allah” , adalah : sebagai pengingat untuk mendapatkan nikmat Al-Ukhuwwah dan saling mencintai sesame mukmin, yang itu merupakan keutamaan dari Alloh. Sebagaimana firman Alloh :

لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ?[الأنفال:63]

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. ”

Yang menjadikan saling mencintai dan mengasihi antara sesame mukmin adalah penegakan terhadap syiar-syiar ‘ubudiyyah karena dan untuk Alloh, yang itu semua merupakan sebab keutamaan dan nikmat dari Alloh. Sebagaimana firman Alloh :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ?[يونس:58] Katakanlah: “Dengan sebab kurnia Allah dan dengan sebab rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. “

Sesungguhnya seagung-agung kenikmatan yang kita bergembira dengannya adalah nikmat Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam menafsirkan ayat diatas :
“ Ketika terkumpul shodaqoh di Madinah dengan sangat berlimpah, maka Umar bin Khoththob dan para pembantunya keluar menuju daerah tersebut. Ketika itu ada seorang pemuda yang melihat berlimpahnya shodaqoh dari binatang Unta dan selainnya, maka pemuda tersebut berkata:
هذا فضل الله ورحمته يا أمير المؤمنين “Ini adalah kurnia Alloh dan rahmat-Nya wahai Amirul mukminin” Maka Umar menjawab : كذبت ولكن فضل الله ورحمته القرآن، قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون “Engkau telah berdusta, akan tetapi kurnia Alloh dan rahmat-Nya berupa Al-Qur’an. Katakanlah: Dengan sebab kurnia Allah dan dengan sebab rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. “
Jadi seagung-agung kenikmatan yang kita bergembira dengannya adalah penegakan terhadap syiar-syiar ‘ubudiyyah/menjalani perintah Al-Qur’an dan menjauhi larangannya karena dan untuk Alloh. Dengan itu seorang akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.
Adapun dalam hadits-hadits nabi banyak sekali yang menjelaskan tentang keagungan dan keutamaan Al-ukhuwwah, diantara :
Sabda Rosululloh yang artinya :
“ Sesungguhnya yang paling dekat majlisnya diantara kalian denganku adalah yang bagus akhlaknya diantara kalian. ” Ini sesuai firman Alloh:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا?[البقرة:83]
“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”

Rosululloh bersabda yang artinya :
“Sesungguhnya Alloh berkata dihari kiamat nanti :“Dimana orang-orang yang saling mencintai karena ke-Agungan-Ku pada hari ini? Aku akan melindungi mereka dihari dimana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Ku” { HR. Muslim}.
Maksudnya adalah seseorang yang mencintai karena Alloh, bukan karena sebab harta, nasab keturunan, atau sebab-sebab dunia yang lainnya.
Demikian juga sabda Rosululloh yang shohih dan masyhur yang mengkhabarkan 7 golongan yang mendapatkan perlindungan dari Alloh dihari kiamat nanti, salahsatunya adalah : 2 orang yang saling mencintai krena Alloh, berkumpul dan berpisah karena-Nya. Alloh berfirman :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنكَرِ?[التوبة:71]

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar”

Yaitu saling menolong, mencintai, dan mengasihi. Ini merupakan akad/ikatan antara sesame mukmin dan muslim. Padanya ada perbedaan derajat sesuai dengan tingkat hubungannya.
Diantara hak-hak tersebut adalah :

1} Hak Al-Ukhuwwah.
Yaitu engkau mencintai saudaramu dengan ikhlash karena Alloh dan bukan karena keinginan-keinginan dunia. Karena mencintai karena dasar dunia itu akan musnah dan pergi. Sebagaimana hadits yang shohih yang menyebutkan tentang 3 golongan manusia yang mendapatkan “Kenikmatan Iman”, salahsatunya adalah : Seorang yang mencintai saudaranya, dia tidak mencintai kecuali karena Alloh.
Maksudnya engkau mencintai saudaramu karena Alloh adalah karena pada diri saudaramu ada kecintaan kepada Alloh, karena saudaramu mentauhidkan dan mengagungkan Alloh serta mengagungkan Sunnah dan beramal dengannya.
Jika engkau menyimpan dan menyampurkan dalam batinmu dalam kecintaan ini { kecintaan karena Alloh} dengan keinginan-keinginan dunia maka pada hakekatnya engkau telah menipu saudaramu. Karena saudaramu tidak mengetahui apa yang ada dalam hatimu sedangkan engkau mendhohirkan kecintaan karena Alloh.
Mencintai karena Alloh akan menghasilkan buah kebaikan, diantaranya :
Baik hati dan hubungannya kepada saudaranya, karena untuk Alloh dan takut karena-Nya. Ini semua tergantung dari kadar keikhlasan dan kejujuran kecintaannya karena Alloh, dan ini juga berpengaruh pada pengagungan hak-hak yang lainnya yang ada pada saudaranya.
Langgengnya kecintaan tersebut.
Adapun kecintaan karena sebab selain Alloh maka kecintaan tersebut tidak akan langgeng. Akan putus kecintaan itu dalam hubungannya dengan manusia. Baik dalam hubungannya dengan saudara-saudaranya, dengan ulama, dengan penuntut ilmu, dengan orang-orang kaya, dengan para pebisnis, dengan para pemilik kedudukan, dengan para pemilik ketenaran, dan selainnya. Apabila kecintaannya itu telah menghasilkan tujuan-tujuan dunianya maka akan menetapkan Al-Ukhuwwah dan dirinya akan manjadi hamba yang tidak bersyukur. Apabila kecintaannya itu tidak menghasilkan tujuan-tujuan dunianya maka dia akan mencerca saudaranya dan mengkhabarkan kejelekan-kejelekannya -والعياذ بالله-.
Ini adalah awal dari hak-hak al-ukhuwwah antara sesame muslim.

2} Hak mendahulukan saudaranya dalam memberikan pertolongan dengan harta dan jiwa.
Tidak diragukan lagi bahwa keadaan manusia berbeda dan bermacam-macam tingkatannya dalam hak ini. Ini merupakan sunnatulloh. Seorang muslim mesti berusaha dalam mengorbankan jiwanya untuk saudaranya. Dalam mengorbankan hartanya untuk saudaranya. Inilah hakikat Al-Ukhuwwah, yaitu seorang yang merasakan apa yang terjadi pada saudaranya. Sebagaimana firman Alloh :

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ?[الحشر:9]

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan “. Termasuk berkorban untuk saudaranya adalah engkau mengorbankan waktumu, hartamu untuk saudaramu, demikian juga memperhatikan hajat-hajat mereka. Termasuk adab dalam menjalankan hak ini juga adalah agar engkau tidak mempermasalahkan sedikitpun apa-apa yang telah diminta saudaramu dari hajat-hajatnya { الله أكبر , red }. Akan tetapi penuhi hajat-hajat saudaramu dengan tanpa mempermasalahkannya dan kasihilah karena Alloh. Demikianlah yang telah diperintahkan oleh Nabi – sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim dalam shohihnya - kepada para shohabatnya untuk berkorban kepada yang lainnya, sampai berkata seorang perowi – yang meriwayatkan hadits – : “ Sampai tidak ada diantara kami yang melihat adanya seseorang yang memiliki kelebihan atas saudaranya yang lainnya “{ الله أكبر , red }.
Tidak diragukan lagi yang seperti ini adalah tingkatan pengorbanan yang sangat agung.
Masalah pengorbanan harta adalah masalah yang besar dan agung dan padanya ada tingkatan-tingkatan yang berbeda pada diri seorang muslim. Jika engkau memiliki harta yang lebih maka pinjamkan kepada saudaramu, karena meminjamkan harta sekali kepada saudaranya itu adalah kebaikan dan satu hal yang bagus. Apabila engkau meminjamkannya 2 kali maka hal itu merupakan shodaqoh kepada saudaramu. Hal ini sebagai sabda Rosululloh yang artinya :
“ Barang siapa meminjami saudaranya 2 kali maka itu seperti bershodaqoh kepadanya” {HR. Ibnu Majah}.
Ini adalah perkara besar dalam berkorban. Ini adalah bentuk penegakan ikatan al-ukhuwwah. Alloh telah berfirman dalam mengkhabarkan sifat orang-orang yang beriman :

أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ?[الفتح:29]
“Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”

Saling berkasih saying dengan sesame muslim membutuhkan pengorbanan untuk saudaranya, membutuhkan pengorbanan dalam waktu, harta, memberi makan, memberikan jalan keluar, dan lain-lain dengan ikhlash.

Dalam hadits yang shohih dan ma’ruf {dikenal} Rosululloh bersabda:

«المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا»
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan, {saling}menguatkan sebagiannya pada sebagian {yang lainnya}”

Demikian bentuk pengorbanan harta, kedudukan dan yang lainnya yang semestinya diberikan kepada saudaranya. Seorang mukmin diperintahkan agar melepaskan dirinya dari kekikiran. Ini adalah perkara yang dicintai. Alloh telah memuji mereka dalam firmannya :

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ
“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung” Tidak kikir dalam mengorbankan waktu, harta, kedudukan dan yang lainnya kepada saudaranya. Apa hakekat ukhuwwah jika seorang muslim tidak memberikan pengorbanan kepada saudaranya??

Rosululloh bersabda yang artinya: “ Barang siapa yang berada didalam hajat/kebutuhan saudaranya maka Alloh berada didalam hajatnya”
Bentuk pengorbanan-pengorbanan tersebut apabila diberikan kepada saudaranya sebelum saudaranya meminta maka seorang tersebut telah menjalankan sesuatu yang sangat agung dan terpuji, akan tetapi apabila diberikan setelah saudaranya meminta maka dia telah menjalankan sesuatu yang wajib atau mustahab/dicintai. Para salaf {generasi terdahulu}telah banyak mencontohkan dalam memberikan pengorbanan sebelum diminta, dalam keadaan orang yang diberi tidak mengetahui siapa yang yang telah memberinya.
Diantaranya riwayat Ar-Robi’ bin khotsim, Dia berkata kepada keluarganya : “Bikinkanlah aku makanan khusus - dia sangat menyukai makanan itu - maka keluarganya membikinkan dengan sebaik-baiknya makanan khusus kesukaannya itu. Setelah jadi maka dibawalah makanan itu oleh Ar-Robi’ kepada saudaranya muslim yang tidak bisa berbicara, tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat. Kemudian dia menyuapi saudaranya tersebut dengan makanan yang sangat disukainya itu sampai kenyang. Setelah selesai maka ada seorang yang berkata kepada Ar-Robi’ : Apa yang telah engkau lakukan ya Robi’,engkau memberikan makanan kepada seorang yang tidak bisa melihatmu? Kemudian Ar-Robi’ berkata : Akan tetapi Alloh جل جلاله mengetahuinya”.
Demikian juga riwayat salaf yang menjelaskan pengorbanan dalam memelihara keluarga saudaranya muslim selama waktu 40 tahun lamanya.
Juga riwayat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang telah berkorban dalam membantu dan memelihara kebutuhan keluarga para tokoh yang menjadi musuhnya setelah matinya para tokoh tersebut.
Tidak diragukan lagi ini semua adalah penerapan hak ukhuwwah dan syariat yang hakiki. Mereka telah menjadikan syariat Alloh diatas hawa nafsunya. Bagaimana tidak, sebagian mereka telah memberikan pengorbanan bagi keluarga musuh-musuhnya.
Ini semua adalah karunia dari Alloh yang wajib disyukuri oleh seorang muslim, dimana Alloh telah memilihnya sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu kejahatan.

(bersambung ke bagian 2 insya Allah)
(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari muhadhoroh ilmiyyah Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Syaikh yang telah dibukukan dengan judul Huquuqu Al Ukhuwwah)

Sumber : Buletin Dakwah Al-Atsary,Semarang. Edisi 20/1427H
Dikirim via email oleh Al-Akh Dadik sumber: www. darussalaf. or. id, penulis: Fadhilatu Asy Syaikh Shalih bin