Faedah Dari Dars Syaikh Muhammad Al-imam , Adab Jarh Wa Tadil, Asy Syaikh Muhammad Al-Imam

Kami sengaja menyadurkan nasehat yang kami dapatkan dari beliau karena kami memperhatikan Asy-Syaikh hafizhahullah Ta'ala sangat bersemangat mengajak para thulabnya untuk bisa memperbaiki apa yang ada di dalam dada ini. Tidak sedikit dari kami yang lalai lalu tersadarkan dan tidak sedikit dari kami yang lupa lalu teringatkan dan tidak sedikit dari kami yang futur dan loyo lalu tersemangatkan.
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وكفى وسلامه على عباده الذين اصطفى. أما بعد

Ikhwany fillah waffaqaniyallahu wa iyyakum jami'an, Berikut sedikit saduran nasehat yang bisa kami sadurkan dari dars Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah Ta'ala.
Kami sengaja menyadurkan nasehat yang kami dapatkan dari beliau karena kami memperhatikan Asy-Syaikh hafizhahullah Ta'ala sangat bersemangat mengajak para thulabnya untuk bisa memperbaiki apa yang ada di dalam dada ini. Tidak sedikit dari kami yang lalai lalu tersadarkan dan tidak sedikit dari kami yang lupa lalu teringatkan dan tidak sedikit dari kami yang futur dan loyo lalu tersemangatkan.
Kami berkata demikian bukanlah kami berlebih-lebihan pada beliau, namun demikianlah beliau adanya kami hanya menjadi saksi dan Allah Ta'ala hasiibuh.

Nasehat ini beliau berikan di sela-sela dars yang beliau sampaikan yaitu pada dars Shahih Al-Bukhary. Terkait dengan Bab Firman Allah Ta'ala,
فقاتلوا أئمة الكفر إنهم لا أيمان لهم لعلهم ينتهون
Ketika sampai pada biografi Yahya bin Sa'id Al-Qaththan rahimahullah beliau berkata:
“Yahya Al-Qaththan rahimahullah dan Ibnu Mahdy rahimahullah termasuk muridnya Syu'bah rahimahullah yang masyhur dalam hal Jarh wa Ta'dil.
Diriwayatkan oleh Al-Khathib rahimahullah dalam Al-Kifayah –atsar shaihih- Dari Abu Bakr bin Khalad rahimahullah bahwa dia berkata kepada Yahya Al-Qaththan rahimahullah: “Tidakkah engkau takut kalau orang-orang yang engkau tinggalkan haditsnya itu akan menjadi musuhmu (menghujatmu) di sisi Allah Ta'ala?” (Yahya Al-Qaththan rahimahullah meninggalkan hadits mereka karena mereka berhak di jarh). Beliau menjawab: “Kalau mereka menjadi musuhku (di sisi Allah Ta'ala) maka itu lebih aku sukai dari pada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam menjadi musuhku (di sisi Allah Ta'ala) sembari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam berkata kepadaku: “Kenapa engkau menyampaikan hadits dariku yang engkau ketahui itu kebohongan (atasku)?”
Maksud dari hal ini adalah mereka menjarh dan dan mengkritik dalam rangka berupaya untuk membela dan menjaga agama islam ini, bersamaan dengan ini mereka merasa takut kepada Allah Ta'ala (sehingga tidak serampangan dan gegabah menjarh dan menta'dil).

Seseorang tidaklah cukup dalam melakukan jarh dan ta'dil hanya berlandaskan rasa takut kepada Allah Ta'ala tanpa berpijak pada kaidah dan patokan yang akan terbangun di atasanya ilmu yang mulia ini yaitu ilmu jarh wa ta'dil. Ilmu yang mulia ini sangatlah sedikit ahlinya. Kalau engkau mencoba untuk membaca dan memperhatikan maka engkau akan temukan Ahli fiqih yang membidangi dalam masalah fiqih dan madzhab itu banyak, dan engkau akan temukan pula bahwa ahli hadits lebih sedikit dibanding mereka, adapun ahli jarh wa ta'dil maka lebih sedikit lagi dari ahli hadits. Karena masalah jarh wa ta'dil tidaklah akan bisa mengembannya dan tidaklah seseorang akan mampu menegakkannya kecuali orang yang benar-benar membidangi dan menekuni bidang ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan dan kepantasan untuk mengemban ilmu ini dari sisi penerapan kaidah dan patokan dengan tepat. Tepat dari sisi menerapkan ilmu tersebut demi menegakkan kebenaran semata, bukan dikarenakan rasa balas dendam kepada seseorang dan juga menerapkan kaidah yang ada tidak dengan serampangan dan tergesa-gesa.

Maka semua perkara ini harus diperhatikan oleh orang yang menginginkan jarh dan ta'dilnya itu bisa benar dan haq. Kalaupun tidak selalu benar maka diharapkan kebanyakannya pada kebenaran. Barangsiapa tidak menerapkannya di atas kaidah yang benar tidak pula diatas patokan yang diakui di sisi ahlu jarh wa ta'dil maka jarhnya akan terdapat padanya kesalahan dan kekeliruan yang ada, sehingga jarhnya akan tertolak dan tidak bisa untuk diterima.

Permaslahan jaryh wa ta'dil adalah permasalahan yang sangat penting. Oleh karena itu, perhatikan para ahli jarh wa ta'dil, terkadang tidaklah muncul dari murid-muridnya orang yang pantas untuk mengemban ilmu ini, atau masyhur dalam mengemban ilmu ini dan berhasil dalam mengemban ilmu ini. Mungkin bisa jadi akan kita temukan orang yang masyhur mengemban ilmu ini tapi dia tidak berhasil dalam misinya tersebut. Oleh karenanya Ali bin Al-Madiny rahimahullah berkata tentang 'Affan dan Abu Nu'aim rahimahumallah: “Aku tidak menerima ucapan (jarh atau ta'dil) keduanya terkait seseorang”. Dikatakan kepada beliau: “Kenapa? Padahal mereka berdua adalah termasuk tsiqahnya orang-orang yang tsiqah”. Beliau berkata: “Karena keduanya berbicara tentang setiap orang”.
Orang yang menjadikan jarh wa ta'dil ini ajang untuk membicarakan dan menghantam seseorang, maka orang ini tidak berjalan di atas kaidah dan patokan dalam melakuakan jarh wa ta'dil yang dicanangkan dan diakui para ulama. ” Kemudian Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah mengkisahkan,
“Bahwa Abu Mu'awiyah rahimahullah (murid Al-A'masy) datang kepada Al-A'masy rahimahullah dan bertanya perihal mengambil ilmu dari . (Syaikh menyebutkan nama namun -qadarullah wa ma sya'a fa'al- suara rekaman kurang jelas). Maka Al-A'masy rahimahullah menjawab: “Adapun dia adalah orang yang ingin dianggap sebagai syaikh”.

Sudah seharusnya seorang penuntut ilmu untuk bertekad agar jangan sampai tujuan dia menuntut ilmu ini hanya mengejar sesuatu yang rendah seperti hal-hal tersebut, atau menuntut ilmu dengan tujuan untuk menyaingi syaikhnya.
Ilmu itu mulia, ilmu itu agung, ilmu itu tinggi kedudukannya. Jika engkau memiliki ilmu dan engkau mengamalkan ilmu tersebut maka engkau akan diangkat derajatmu di sisi Allah Ta'ala, tanpa melirik manusia menganggap engkau syaikh ataupun tidak. Tinggalkan anggapan manusia, dan hendaknya engkau ridha untuk menjadi orang yang diterima di sisi Allah Ta'ala. Jika engkau diterima di sisi Allah Ta'ala maka anggapan manusia terhadapmu tidak ada dampaknya bagimu.
Manusia itu bisa saja mereka benar dan terkadang juga mereka salah. Terkadang manusia sangat terkagum dan mengikuti seseorang, lalu orang tersebut terfitnah dengan dijadikan sebagai syaikh oleh mereka sedangkan mereka menjerumuskannya ke dalam fitnah sehingga jadilah dia terkungkung oleh fitnah.

Seseorang harus tahu pentingnya belajar, harus tahu bahwa dia harus beribadah kepada Allah Ta'ala berdasarkan ilmu, menjauhi basa-basi dalam menegakkan al-haq dan menjauhi kerancauan yang terjadi di tengah-tengah manusia. Hendaknya seseorang untuk beristiqamah, tegar, jujur dan mendorong dirinya untuk ikhlas dan berpegang teguh dengan kitab dan sunnah semaksimal mungkin. Inilah bentuk dari menuntut ilmu syar'i.

Perkataan Al-A'masy rahimahullah tersebut menunjukkan bahwa, cita-cita dan ambisi seseorang dalam menuntut ilmu untuk meraih sesuatu itu tidaklah terlarang. Seperti ingin menjadi seorang 'alim atau seorang 'ulama, akan tetapi perlu diingat hendaknya berjalan di atas kaidah dan patokan yang benar dan lurus, hendaknya beradab dalam menuntut ilmu dan mengamalkan ilmunya, maka dia akan sampai sesuai dengan usahanya. Akan tetapi terkadang ada seseorang yang memaksakan diri untuk disebut sebagai syaikh meskipun demikian jauh dari kapantasan, maka orang seperti ini tidaklah berhasil dalam misi dan cita-citanya.

Namun tuntutlah ilmu dan memohonlah kepada Allah Ta'ala agar dibukakan pintu kebaikan dan agar diberikan kebaikan. Jika kita menuntut ilmu lalu mengamalkannya maka kebaikan akan menyusul setelah itu biidznillah, dan kemuliaan itu adalah pemberian Allah Ta'ala. “

Demikian ikhwany fillah nasehat yang tersadur dari dars Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah ta'ala. Semoga kita bisa mengambil manfaatnya.
Wallahu a'lam bishwab Beliau sampaikan di Ma'had Darul Hadits Ma'bar, Yaman
Pada Dars Shahih Al-Bukhary
17 Oktober 2009

Ditranskrip dan diterjemahkan pada 11 Nopember 2009
Oleh Abu Zubair 'Umar Al-Indonisy
Di Darul Hadits Ma'bar, Yaman

sumber: www. darussalaf. or. id, penulis: Asy Syaikh Muhammad Al-Imam