Hukum dan Tatacara Dzikir Taubat Berjama’ah dengan Suara Keras

Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat Kami paparkan sebagian contoh-contoh bid’ah dan hal-hal yang diharamkan dari perkara-perkara yang asalnya sebetulnya disyari’atkan, agar jangan ada orang yang tidak memahami kaidah ushul yang menjadi landasan syari’at Islam menyangka bahwa kami melarang manusia berdzikir kepada Allah, melakukan istighfar (minta ampunan), mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi dan sebagainya. Bukan demikian, karena asal dari semua amalan ini adalah ibadah yang disyari’atkan, bahkan termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فَاذْكُرُوْنِي أُذْكُرْكُمْ
“Maka ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian. “(Al Baqarah 152). Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat Kami paparkan sebagian contoh-contoh bid’ah dan hal-hal yang diharamkan dari perkara-perkara yang asalnya sebetulnya disyari’atkan, agar jangan ada orang yang tidak memahami kaidah ushul yang menjadi landasan syari’at Islam menyangka bahwa kami melarang manusia berdzikir kepada Allah, melakukan istighfar (minta ampunan), mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi dan sebagainya. Bukan demikian, karena asal dari semua amalan ini adalah ibadah yang disyari’atkan, bahkan termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فَاذْكُرُوْنِي أُذْكُرْكُمْ
“Maka ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian. “(Al Baqarah 152).

Dan:
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
“Dan mengingat Allah adalah lebih besar. “(Al ‘Ankabut 45).
Dan:
وَاذْكُرُوْا اللهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, mudah-mudahan kalian beruntung. “(Al Jumu’ah 10).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الْرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
“Dua kalimat yang ringan diucapkan, berat dalam timbangan, sangat dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih, yaitu:”Subhanallahi wa bihamdihi. Subhanallahil ‘Azhim. “(HSR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah).
Dan:
أَلاَ أَخْبَرَكُمْ بِأَحَبِّ الْكَلاَمِ إِلَى اللهِ ؟ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلاَمِ إلَِى اللهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
“Maukah kamu saya terangkan satu kalimat yang sangat dicintai Allah? Sesungguhnya kalimat (ucapan) yang sangat dicintai Allah adalah:” Subhanallahi wa bihamdihi. ”
Dan:
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَ خَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إنِْفَاقِ الْذَّهَبِ وَالفِضَّةِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُم وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى
“Maukah kalian saya sampaikan sebaik-baik amalan kalian dan yang paling sucinya di sisi Raja kalian (Allah), menaikkan derajat kalian dan lebih baik bagi kalian daripada infaq emas dan perak dan lebih baik daripada kalian bertemu dengan musuh lalu kamu menebas leher mereka atau mereka menebas leher kamu? Mereka berkata:”Tentu (ya Rasulullah). ” Kata beliau:”Berdzikir (mengingat) Allah Ta’ala. ”

Syaikhul Islam Ibnu Qayyim rahimahullahu Ta’ala mengatakan bahwa di dalam dzikir ini terdapat lebih dari 100 faedah, beliau menyebutkan 78 di antara faedah-faedah tersebut. (Lihat Shahih Wabilus Shayyib 82-164).

Maka dengan berbagai dalil ini kita ketahui betapa besar keutamaan dzikir ini dan terangkatnya derajat orang yang mengamalkannya.

Namun yang kita ingkari di sini adalah menempatkan dzikir-dzikir ini dengan tata cara aturan tertentu yang dikhususkan dan diberinama dengan nama yang khusus pula, dalam hal ini adalah apa yang dinamakan oleh ‘Arifin Ilham dengan “Adzkar ‘Amaliyah At Taubah”. Di mana amalan (bid’ah) ini dikerjakan dengan suara keras dan bersamaan, disertai tangisan serta ikhtilath (campur baur) laki-laki dan perempuan atau hal-hal lain yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya ataupun orang-orang sesudah mereka yang dikenal mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, dan jauh dari bid’ah dari kalangan imam-imam pembawa petunjuk seperti Imam Asy Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Sufyan Ats Tsauri, ‘Abdullah bin Mubarak, Ishaq bin Rahawaih dan salafus shaleh lainnya.

Dan bahkan belum pernah kita kenal selama ini tatacara dzikir dengan nama ini kecuali setelah datangnya laki-laki Banjar ini, seorang sufi ahli bid’ah, Muhammad ‘Arifin Ilham. Bahkan sesungguhnya yang kita dapatkan adalah pengingkaran dari salafus shaleh terhadap orang yang membuat aturan atau tatacara dzikir berjama’ah dengan suara keras.

(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman. Diterbitkan dalam buku berjudul “Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah Bantahan Ilmiah Terhadap M. Arifin Ilham Dan Para Pendukungnya” oleh penerbit Darus Salaf Darus Salaf Press, Wisma Harapan Blok A5 No. 5 Gembor, Kodya Tangerang HP. 081316093831 Email: darussalafpress@plasa. com).
sumber: www. darussalaf. or. id, penulis: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al Bugisi